SEKILAS INFO TENTANG JURUSAN AGRIBISNIS BIDANG PERTANIAN

https://tipspetani.blogspot.com/2019/01/sekilas-info-tentang-jurusan-agribisnis.html

Apa yang pertama kali terlintas di benak kamu saat mendengar tentang jurusan kuliah Agribisnis? Sawah? Petani? Padi? Hm, kalau iya, berarti kamu belum kenal banget nih dengan jurusan kuliah yang satu ini. 

Negara-negara maju boleh punya nuklir, tank baja, dan teknologi canggih, tetapi Indonesia nggak kalah, karena Indonesia punya beras, cabe, rempah-rempah, dan komoditas pertanian lainnya untuk jadi “alat perang” menghadapi globalisasi, termasuk CAFTA, Free Trade, dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Supaya hasil bumi kita bisa diolah jadi “alat perang” alias komoditas, diperlukan lulusan Agribisnis (Sosial Ekonomi Pertanian). 

“Ah, gengsi belajar soal pertanian. Lagian saya ‘kan dari lahir tinggal di kota. Mana ngerti?” Yah, salah paham begitu, tuh, yang bisa bikin identitas Indonesia sebagai negara agraris jadi merosot! Apa salahnya, sih, bekerja di bidang pertanian? Justru gara-gara anak muda zaman sekarang cenderung memilih pekerjaan yang (menurut mereka) “lebih menjanjikan dan bergengsi”, pengelolaan pertanian kita jadi belum maksimal, dan usaha tani kita menjadi kurang menarik secara ekonomis. Nggak heran kalau harga-harga hasil bumi Indonesia jadi nggak stabil. Ironis ‘kan, kalau kita harus terus-terusan impor beras? Katanya negara agraris? Lagipula, menjadi mahasiswa Agribisnis bukan berarti kamu bakal jadi petani yang macul di sawah, sob! 


Jadi, Agribisnis itu apa, sih? 
Asal kata “agribisnis” sendiri berasal dari kata bahasa Inggris, yaitu “agribusiness”, yang merupakan gabungan kata agriculture (pertanian) dan business (bisnis). Jadi intinya, agribisnis adalah bisnis/manajemen yang bergerak di bidang pertanian serta segala hal pendukungnya. Sederhana ‘kan? Perlu dicatat, agribisnis adalah sebuah usaha komersial. Ingat, sob, kata kuncinya “komersial”, maka dalam agribisnis, kamu nggak sekedar menjual hasil pertanian, tetapi juga harus memikirkan cara agar hasil taninya menguntungkan. Misalnya, strategi bisnis apa yang perlu kamu lakukan? Bagaimana cara mengemas hasil tani kamu supaya sesuai kebutuhan masyarakat?

Lalu, kebanyakan anak muda mengira agribisnis itu cuma menanam dan memanen hasil tani atau ternak. Nggak, sob! Agribisnis bergerak dari hulu sampai hilir. Maksudnya gimana, sih? 

Contoh sederhananya begini : 

Pak A beternak sapi, dan beliau membudidayakan sapi-sapinya dari lahir sampai besar, serta menjaga mereka supaya selalu sehat. Ketika sudah besar, Pak A membisniskan sapi-sapinya. Ada yang dijual, ada yang dipotong, ada yang khusus untuk diperah. 

Nah, sapi yang dipotong pun dibisniskan lagi oleh Pak A. Kulitnya dijadikan tas, daging dan organ dalamnya diolah jadi makanan, hasil susunya dibuat jadi keju, susu, yogurt, dan kotorannya dijadikan pupuk. Setelah mengolah produknya pun, Pak A harus memikirkan cara menjaga kualitas produk-produk tersebut, serta cara memasarkannya sampai laku dan menguntungkan. Bisa saja nanti Pak A sekalian buka restoran steak daging sapi, atau kedai es krim yang menggunakan susu hasil produksi sapinya sendiri. " " Tuh, banyak banget ‘kan? Itulah yang namanya berbisnis dari hulu (awal) sampai hilir (akhir), dan itulah agribisnis sejati.

Apa yang dipelajari di jurusan Agribisnis? 

Sebagai program studi, agribisnis sangat memadukan ilmu Soshum dan Saintek, karena dia mempelajari tentang segala aspek budidaya, pengolahan hasil pertanian, manajemen usaha, kewirausahaan dan pemasaran produk. Luas banget, deh, sob! Kuliah jurusan agribisnis lebih banyak membahas bisnis dan tata cara mengelola lingkungan agar lebih efektif, efisien, dan menguntungkan. Lagi-lagi, jangan lupa, bisnis itu pada hakikatnya harus menguntungkan, ya. Kuliah Agribisnis nggak hanya mempelajari bisnis pertanian dan perkebunan, tetapi juga bisnis perternakan, perikanan, serta kehutanan. 

Walau kuliah agribisnis lebih banyak mempelajari ilmu bisnis dan ekonomi, tetapi ilmu biologinya nggak bisa dilupakan, soalnya dalam agribisnis, yang dijual ‘kan hasil bumi yang punya sifat-sifat biologis. 

Gimana kita bisa berbisnis, kalau “produk” jualan kita nggak cepat busuk atau penuh penyakit? Maka aspek biologis “produk” jualan kita pun tetap harus dipelajari. Mata kuliahnya pun beragam, mulai dari mata kuliah yang dekat dengan pertanian (misalnya, Ekologi Pertanian dan Sosiologi Pertanian) sampai mata kuliah yang dekat dengan pemasaran (misalnya, Matematika Ekonomi, Ekonomi Mikro, Ekonomi Makro). 
https://tipspetani.blogspot.com/2019/01/sekilas-info-tentang-jurusan-agribisnis.html
Ada beberapa universitas di Indonesia yang menyediakan jurusan Agribisnis, seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Brawijaya.

Bagaimana prospek kerja lulusan Agribisnis? 
Kalau kamu ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan subsistem agribisnis, kamu bisa bekerja di perusahaan pupuk / bibit / makanan, berbagai perusahaan swasta maupun BUMN, sebagai:
  • Penyuluh pertanian 
  • Pengembangan SDM -    
  • Manajer lapangan
  • Peneliti pertanian
  • Manajer pemasaran -   
  • Distributor atau agen produk pertanian -    
  • Dsb. 
Mau jadi entrepreneur alias pengusaha sendiri? 
Bisa banget! Kalau balik lagi ke contoh sapi di atas, dengan satu komoditas saja, kamu sudah bisa menghasilkan berbagai produk ‘kan? Apalagi peluang berbisinis di bidang agribisnis di Indonesia sangat besar, karena Indonesia sangat kaya dengan hasil bumi. 
https://tipspetani.blogspot.com/2019/01/sekilas-info-tentang-jurusan-agribisnis.html
Jurusan agribisnis juga banyak dibutuhkan bank, lho. Pasalnya, ada banyak urusan pinjam meminjam modal antar petani dan bank, dan seorang lulusan Agribisnis lah yang paling memahami hal tersebut. Di bank, seorang lulusan agribisnis bahkan bisa saja menjadi manajer khusus bidang pengelolaan uang dalam pertanian

Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan pun butuh lulusan Agribisnis, untuk menjadi penengah mereka dalam memberikan kredit untuk para petani, supaya tepat sasaran. Seorang lulusan Agribisnis tentunya lebih paham soal kerja petani dan peternak di lapangan dong, ya. Intinya, jangan berpikir bahwa lulusan jurusan pertanian—termasuk Agribisnis—pasti jadi petani yang macul di sawah, sob. Dunia nggak sesimpel itu! Kalau sesimpel itu, lulusan Kedokteran pasti hanya jadi mantri, lulusan Teknik pasti hanya jadi tukang las, dan sebagainya. Nggak begitu ‘kan?
sumber : https://www.youthmanual.com
PENGERTIAN LUAS DARI AGRIKULTUR
MEMULAI BISNIS BIBIT TANAMAN, INILAH BIBIT PALING BANYAK DICARI

MEMULAI BISNIS BIBIT TANAMAN, INILAH BIBIT PALING BANYAK DICARI

Bibit Lada Perdu/Lada Panjat


Seiring dengan harga Lada yang cukup mahal, berkisar antara Rp.50.000 – 200.000, tergantung fluktuasi harga ya guys, membuat banyak petani yang mulai melirik untuk membudidayakan tanaman yang satu ini.

Dengan banyak nya peminat pembudidaya tanaman lada, membuat permintaan bibit tanaman lada semakin tinggi, ini menjadi peluang bagi anda yang ingin memulai bisnis bibit tanaman.

Bibit Jeruk

Siapa yang tidak suka dengan tanaman yang mengandung Vitamin C ini? Bibit jeruk menjadi salah satu bibit tanaman yang paling banyak di cari untuk di tanam di pekarangan rumah, bahkan Juga untuk petani jeruk konvensional yang menanam jeruk dengan skala luas.
Ada Berbagai macam bibit jeruk yang dapat anda pasarkan seperti Jeruk nipis, Jeruk Lemon ,jeruk mandarin dan lain sebagainya.
Bibit Lengkeng

Tanaman yag memiliki buah yang Manis ini cukup di gemari oleh masyarakat untuk di tanam di halaman atau di lahan secara konvensional, dengan cara perawatan yang cukup mudah menjadikan salah satu keunggulan tanaman lengkeng ini

Bibit Jambu Kristal

Jambu dengan rasa yang manis dan memiliki keunggulan di dalam jambu tersebut tidak memiliki biji,menjadikan tanaman ini banyak di gemari masyarakat.

Jangan lupa Bibit Jambu Kristal masukan kedalam Daftar Bisnis Bibit Tanaman Anda.

Bibit Jambu Madu Deli

Akhir-akhir ini permintaan Jambu madu deli meningkat, seiring dengan rasa yang manis dan memiliki ciri khas rasa tersendiri dari jenis-jenis jambu lainnya, membuat tanaman Jambu Madu deli Ini memiliki banyak penggemar

Bibit Durian

Siapa yang tidak ingin penen durian di pekarangan/belakang rumah setiap tahun nya? tentunya hal tersebut menjadi impian bagi para pecinta Durian, bagaimana tidak panen Durian dari pohon yang di tanam sendiri itu sensasi rasa nya akan lebih enak nih guys.. dari pada yang kita beli.

Bibit Durian

Dengan banyak nya peminat buah durian menjadikan Bisnis bibit tanaman durian ini memiliki peluang ang cukup menjanjikan.

Tips Sukses Memerangi Hama dan Virus Tanaman Terong Belanda



Wajah Japantas Damanik, riang bukan kepalang. Itu karena ia mampu memanen terong Belanda yang ditanamnya di atas lahan seluas 15 rante. Kegembiraan terpancar ketika petani lain harus pasrah membiarkan tanamannya rusak, seperti terong Belanda, jeruk atau cabai terserang penyakit layu bakteri, busuk akar, tanaman kerdil tak menghasilkan. Dalam kondisi ini Japantas mampu mengatasinya.


Ketika Analisa menyambanginya di kebunnya, Desa Dolok Tolong Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Dairi beberapa waktu lalu, pria yang lebih suka disebut sebagai pengamat hama penyakit tanaman ini, justru memanfaatkan tantangan ini sebagai peluang. Ketika buah-buah tertentu terserang virus dan hama penyakit, justru Japantas Damanik meneliti dan mencari akan masalahnya. Jika penyakit tanaman tersebut dapat diatasi, itu artinya upaya Japantas layak dibayar mahal, karena sesuai hukum permintaan ekonomi, bila barang sedikit, maka harga otomatis menjadi mahal.
Pada pertengahan tahun lalu, pria ramah dan murah senyum itu mengatakan untuk pertama kali panen, ia berhasil memetik1 ton terong Belanda.

“Saya menjualnya langsung ke ke supermarket di Medan dengan harga Rp. 12.000 s.d Rp. 15.000 per kilogram. Ketika selesai transaksi , pengusaha supermarket itu mengatakan, kalau masih ada barangnya, kami akan tampung lagi,” begitu kenang Japantas Damanik dengan riangnya. Hasil panen perdana itu ia membawa pulang puluhan juta rupiah.

Jumlah rupiah yang lumayan ini membuatnya bersemangat untuk memperluas areal tanaman terong Belanda. Meski bagi petani lain, membudidaya terong Belanda luar biasa ribetnya karena serangan hama dan virus.

“Saya menanam 1200 pokok dari biji yang saya semai sendiri. Dalam 10 bulan, pohon terong sudah bisa berproduksi, dengan rata-rata satu pohon bisa menghasilkan 12 kilogram buah,” paparnya.

Menurutnya, pada masa panen tanaman terong berusia 9 bulan, proses pemetikan dapat dilakukan 18 kali, karena tidak semua buah ranum sekaligus. Sedangkan hasil yang diperolehnya dari 1200 pokok tersebut pernah menghasilkan 1 ton buah terong.

Japantas mengatakan, buah yang kaya kandungan vitamin A dan C itu ada dua jenis, yakni varitas Taiwan dan lokal. Dia sendiri mengembangkan jenis Taiwan, karena kualitas buahnya lebih bagus dan besar, warnanya cerah, lebih kilat dan lebih digemari pasar. Sedangkan jenis lokal, banyak mengandung biji dan buahnya lebih kecil.

Tidak Mengenal Musim

Yang memotivasi Japantas membudidayakan buah terong Belanda karena, buah ini tidak mengenal musim. Kapan saja bisa berbuah dan dipanen asalkan perawatannya dilakukan dengan baik.

Begitupun, bukan berarti menanam buah ini tanpa tantangan. Apa rahasia Japantas Damanik sukses berkebun terong Belanda?

Saya memprotek hama penyakit yang masuk ke dalam areal tanaman terong dengan penangkal sistem “nano-nano (berbagai cara) dengan menanam bunga matahari, sedap malam dan bangun-bangun untuk menghalau hama. Sebelum hama wereng memasuki areal kebun, dengan proteksi tanaman pagar ini, maka hama tidak tidak sampai menyerang ke tanaman terong, tapi terputus di tanaman pagar “nano-nano” tadi.

Ia mengatakan, keluhan petani buah selama ini masih tetap dihantuivirus yang mengakibatkan tanaman kerdil, buah jarang, busuk akar. Akibatnya produktifitas buah merosot. Dan hal inilah yang dialami petani lainnya di beberapa daerah Kabupaten Dairi, khususnya tanaman jeruk dan terong Belanda.

Japantas juga mengatakan, jika keadaan tidak mendesak, ia tidak akan menggunakan pestisida untuk memerangi hama. Cara yang dilakukan di atas dengan sistem “nano-nano” tadi itu ternyata cukup ampuh menghalau hama tanaman di samping dia sendiri juga pecinta tanaman yang ramah lingkungan dengan menjauhi pupuk kimiawi.

Tidak Gunakan Pestisida

Mengapa tidak memilih pestisida? Damanik menjelaskan, umumnya pemakaian pestisida akan disertai dengan pemusnahan sebagian mikroorganisme yang menguntungkan. Jika pestisida yang digunakan adalah pestisida sintetik, maka nilai ke”organi”annya pun akan sirna. Selain itu, sering memakai pestisida yang tidak sesuai dengan anjuran pemakaian dapat mengakibatkan resistensi terhadap hama tersebut.

Sedangkan untuk memerangi virus, seperti busuk akar, kuning daun, jamur dan lainnya, Japantas menggunakan pupuk cair yang disebut enzim Fitofit.

“Terus terang, tanaman terong Belanda saya banyak dibantu dengan cairan enzim Fitofit, padahal saya hanya menyemprotkannya sebulan dua kali. Bila tanaman sudah diaplikasi Fitofit, meski musim kemarau tanaman tetap segar,” katanya.

Sementara pakar enzim DR.-Ing. Andy Wahab Sitepu, menjelaskan, Fitofit juga mampu membantu tumbuh-tumbuhan mengatur keseimbangan unsur hara yang dibutuhkannya dan menyerap/ memanfaatkan kelebihan pupuk yang menimbulkan kerusakan struktur tanah dan perakaran tanaman serta bahkan menyebabkan kematian tanaman.

Diakhir bincang-bincang dengan Japantas Damanik, ia mengatakan hama atau virus jangan ditakuti, tapi bagaimana kita “memeranginya”, dalam arti bukan membasmi hama dengan pestisida. Tapi dapat dilakukan dnegan aplikasi cairan aplikasi Fitofit, hal ini bukan membunuh virus, tapi menjinakkan virus dalam tanaman dan tanaman tetap selamat malah berkembang semakin baik.

“Ketika serangan penyakit tanaman terjadi, justru disana kita memetik hikmah, bagaimana menyembuhkan penyakit sehingga memperoleh keuntungan? Kalau misalnya tanaman sehat dan buahnya membanjiri pasaran, tapi harga sangat rendah, bukan tidak mungkin petani merugi. Justru kondisi seperti ini membuat petani menjadi serba salah. 
(Anthony Limtan di http://harian.analisadaily.com